JALAN NEGERIKU

Ketika umur negeri ini telah seusia satu generasi manusia. Walaupun kata sementara orang masih terlalu hijau untuk ukuran umur sebuah bangsa. Belum-belum, secara perlahan muncul suatu penyakit yang di timbulkan oleh semacam virus frustasi nasional yang diam-diam telah mulai menggerogoti berbagai organ tubuh bangsa.

Hal itu terjadi pada saat pembuat sistem lupa dengan sistem yang dibuatnya, dan yang empunya ribuan janji pada rakyat hanya mampu memenuhi janji yang pernah diikrarkan untuk dirinya sendiri. Yang tentu saja tak pernah kedengaran oleh orang lain apalagi telinga rakyatnya. Hingga sampai saat ini terlihat semakin jauh bagi rakyat untuk dapat menerima barang secuil dari apa yang dijanjikan.

Rakyat tak pernah menuntut banyak, sederhana saja. Mereka tak ingin dihantui kegelisahan dalam gelapnya perjalanan, karena mereka sudah cukup nanar dengan ketidakmampuannya mengikuti membubungnya kebutuhan hidup. Dan, karena mereka juga manusia yang punya otak dan hati.

Padahal sesungguhnya tujuan perjalanan sebuah bangsa tak pernah benar-benar dilupakan oleh setiap anak-anaknya, hanya karena berbagai keterbatasan yang disimpan dalam-dalam. Atau ketika tertutupi selendang istri-istri yang telah banyak bertambal menyerupai sulaman. Sehingga sampai ada yang mengatakan ini menjadi pelancongan yang sia sia. Padahal sebenarnya bangsa ini punya banyak impian masa depan.

Tapi siapa yang percaya bahwa mimpi-mimpi akan benar-benar hadir di sini, bila setiap malamnya ia berganti. Sedangkan siang tak datang dua atau tiga kali sehari. Dan sesungguhnya takkan pernah ada anak-anak bangsa arya yang mengharap kebingungan sang Fuhrer mendekati hari-hari sulitnya. Atau kekuatan yang dimiliki putra-putra negeri Matahari Terbit setelah tahun 1945. Apakah itu sama sulitnya dengan saudara-saudara kita suku Anak Dalam di belantara Jambi yang masih hidup nomaden di masa sekarang ini?

Dan saat orang tua kita menyemangati agar duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang berkemajuan, maka tersulaplah kapitalisme menjadi hyperkapitalis kita yang rodanya terus berputar, makin kencang dan makin panas sampai sedikit demi sedikit bagian-bagiannya melepuh dan mengelupas. Begitupun kita masih berharap ketinggian itu dapat tercapai sebelum roda-roda terbakar habis tak bersisa.

Ada rembesan air mata yang mengaduk-aduk perasaan ketika seorang anak kecil tiba tiba berdiri dan berkata penuh kesungguhan kepada ayahnya, ketika sang ayah hendak mengajak mencari kehidupan di negeri tetangga. “Ayah, kami sangat mencintai negeri kami ini”. Ia, anak kecil itu memang belum sepenuhnya memahami apa yang saat ini terjadi pada kehidupan orangtuanya, tetapi bukankah itu suatu bukti bahwa kecintaanya pada negerinya telah mulai tumbuh di hatinya.

Pernah pula ada seorang tua yang berjalan kesana kemari sambil menangis tersedu-sedu, ia meratap”…duhai negeriku, duhai agamaku jangan engkau terkoyak oleh lancungnya kuasa tuhan”. Tapi orangtua itu saat ini telah tiada, terakhir ia pergi ke ujung desa, dan kemudian hilang tak pernah terdengar lagi ceritanya.

Lagu Indonesia Raya memang masih terus bergema, dari mulut-mulut mungil anak-anak kita, pada setiap Senin pagi disela-sela upacara bendera. Tapi itukan sebuah lagu. Yang syair syairnya oleh orang-orang tua terkadang membuatnya jadi lebih sok tahu. Sedangkan senyatanya, sekali lagi masih menjadi sebuah mimpi. Dimana ke-raya-annya jika hanya untuk mendapatkan raskin saja masih harus berebut dengan si kaya yang masih berlagak miskin.

Apakah bukan sebuah kebijaksanaan yang tak bijaksana bila punya pilihan lebih baik menempuh jalannya bangsa Indian yang untuk mengentaskan dirinya dari ketertinggalan harus mendirikan rumah judi.

//Eko Wahono

Tinggalkan Balasan