DIarsipkan di bawah: Asal nulis | Leave a Comment »
Gantian Menggusur
Karma datang tak menunggu setelah ajal tiba.
Ia lahir bersama kelahiran kita.
(Corat-coret ini untuk majalah Tropika Indonesia Edisi April-Juni 2008).
//Eko Wahono
DIarsipkan di bawah: Corat-coretku | Ditandai: Add new tag, kartun | Leave a Comment »
Akar-akar
Kami sedang menikmati kemalasan saat hal itu tiba-tiba menjadi kenyataan. Tadinya hanya ada dalam dongengan para orang tua, yang hanya kami guanakan sebagai peninabobo mata kami yang memang sudah mengantuk setelah seharian bermain kelereng.
Memang tidak semua orang terkejut ketika tiba-tiba akar bermunculan dimana-mana.
Bergerak melingkar-lingkar berbelitan tumpang tindih, menjepit apapun yang ada.
Akar-akar itu telah memenuhi apa saja termasuk ruang, waktu sampai tujuh dimensi semesta. Tak seorang pun tahu kapan, di mana, oleh apa atau siapa dan bagaimana akar-akar itu dapat menjadikan dirinya seperti itu. Bahkan sorang Einstein dan Nastrodamus apatah lagi Harry Potter. Sehinggga warna coklat tanah, hijau dedaunan, birunya laut, putihnya awan sampai merahnya matahari semua terbelit terlilit akar-akar norak itu. Habis tak lagi berwarna.
Bulatnya semesta raya terlihat menjadi seperti gumpalan rambut keriting perempuan seribu abad tak bersisir. Akar-akar itu telah membentuk kursinya sendiri. Dan ia bertahta dengan segala ketiranannya. Ia tak peduli bila di dunia ini juga pernah ada Hitler, Napoleon, Marcos dan juga Idi Amin.
Itu kenyataan yang ada saat tubuh berdiri memandang ke arah jendela terbuka. Jendela rumah kita. Yang sebenarnya pandangan itu dapat menembus ujung galaksi. Walaupun dipasang tujuh lapis tirai, yang masing masing tirai setebal tujuh buah matahari. Lihatlah dengan segenap pelototan mata niscaya tak juga akan melihatnya. Karena dengan berbagai cara semua berusaha untuk menutupinya, meredam suaranya agar telinga paling sensitive dari seekor anjing laut tak mampu menangkap gelombang suaranya. Menaburinya dengan berjuta wangi bunga agar bau aslinya tak tercium oleh hidung seekor anjing gunung pun. Betapa keganjilannya tak akan pernah tergenapi walau oleh berlipat-lipat kali himpunan angka genap.
Akar-akar tak tertangkap minda itu terus bergerak membelit meretaskan lorong-lorong hati, bak belitan sanca lapar, sampai semua mati rasa, mati bahasa, terkapar pasrah atau sirna.. Di mana tegakannya, di mana daun-daunya, di mana bunga dan buahnya tak usahlah bertanya. Simpan rapat-rapat dalam lipatan dompet. Karena hanya akan ditinggalkan oleh waktu yang berlari terengah engah.
Ketika seseorang mencoba berdiri dengan sukarela tiba-tiba ia duduk kembali hingga pantatnya melesak beberapa senti.
Angin diam, ombak diam bahkan guntur dibuat demam tak bergumam.
“Jangan macam-macam!”
“Ini sarang tuhan!”
“Lupakan.”
“Katakan iya, jangan berkata tidak. Daripada kau menangis”.
Siapa mengigau berenang di kolam susu, berkeramas anggur dan berlulur madu? Hidup berkawan sunyi di belantara tanah yang dijanjikan bagi bani Israel ditepi danau Galillee diantara kibbutz-kibbutz mereka? Atau di sebuah kampung kecil ditepi sebuah pantai berpasir putih di pelosok Bolaang Mongondow.
Sehingga suatu kali terdengar gumaman istri-istri yang ditinggal suaminya yang prajurit berperang bersama panglima Al Hajaj ketika menggempur kota Makkah.
“Lupakan.”
“Biarkan.”
“Siapa tahu…”
“Siapa tahu?”
“Itu yang kau dan aku mau.”
Bernafas dengan ritme sebagaimana biasa. Bersama belitan demi belitan akar tak beraturan. Rasanya tak perlu curiga pada Tuhan bahwa Ia tak punya mata.
Khabar dari sesosok Fidel Castro dengan segenap cita-citanya tak lagi terdengar. Perkawinan Saman dengan Ayu Utami lebih sering menjadi cerita masa lalu. Karena semua menjadi akar, akar, akar.
Anak-anak tidur lelap berselimut kain kumal dengan sesungging senyum di bibirnya, menikmati dunia mimpi. Benarkah orangtuanya berdoa agar jangan datang esok pagi.
//Eko Wahono
DIarsipkan di bawah: Asal nulis, Uncategorized | Ditandai: Add new tag | Leave a Comment »
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | 1 Komentar »
